LOS ANGELES – Untuk anda penggemar berat dunia fantasi Lord of the Rings, ada yang baru dari JRR Tolkien. Buku terbaru penulis asal Inggris itu yang berjudul The Fall of Gondolin siap dirilis Agustus 2018.

The Fall of Gondolin disebut-sebut sebagai cerita awal terbentuknya Middle-Earth yang menjadi setting penting di Lord of the Rings. Tolkien menyebut The Fall of Gondolin sebagai cerita asli pertama tentang Middle-Earth.

John Garth, penulis penulis Tolkien and the Great War, menjelaskan bagaimana The Fall of Gondolin akan makin mengingatkan pembaca kepada series The Lord of the Rings. Akan muncul monster-monster yang sangat familiar dari dunia The Lord of the Rings.

“Ini adalah sebuah cerita pencarian tentang pahlawan yang ragu-ragu di awal namun kemudian berubah menjadi pahlawan sesungguhnya. Ini adalah template dari apa yang ditulis Tolkien kemudian,” papar Garth seperti dilansir The Guardian, Kamis (12/4/2018).

Garth melanjutkan, “Ini memiliki seorang Pangeran Kegelapan, pertemuan pertama kita dengan Orc dan Balrog. Ini benar-benar pemanasan awal Tolkin sebelum melakukan apa yang dilakukannya kemudian.”

Nantinya, pembaca akan diantarkan pada pertempuran antara Morgoth dan Ulmo. Selagi Morgoth mencoba mengungkap keberadaan dan menghancurkan kota Gondolin, Ulmo berusaha untuk menyelamatkan Noldor, keluarga Elv yang tinggal di kota tersebut.

The Fall of Gondolin akan menjadi buku terbaru kedua Tolkien yang dirilis dalam dua tahun terakhir. Sang putra, Christopher Tolkien, berperan sebagai editor The Fall of Gondolin, dengan Alan Lee sebagai ilustrator.

Kehadiran Alan Lee akan memperkuat atmosfer The Lord of the Rings. Pasalnya, sang ilustrator juga lah yang membuat ilustrasi dari novel The Hobbit dan The Lord of the Rings.

Di sisi lain, pengumuman akan diterbitkannya The Fall of Gondolin dengan keterlibatan Christopher di dalamnya, cukup mengejutkan. Pasalnya, saat merilis Beren and Luthien pada 2017 lalu, editor 93 tahun mengatakan jika Beren and Luthien adalah karya terakhir ayahnya yang akan ia garap.

“Kata pengantar itu memiliki kualitas pidato perpisahan tertentu. Dia mengenang tentang pertemuan pertamanya dengan tulisan ayahnya. Tapi, inilah hasilnya,” jelas John Garth.

(kem)

Advertisements