JAKARTA – Maraknya produksi film horor di Indonesia secara tidak langsung menutupi fakta bahwa film untuk anak-anak semakin langka. Presiden Jokowi bahkan berharap agar para sineas kembali membuat tontonan berkualitas yang bisa dikonsumsi oleh anak-anak bangsa.

Saat sedang mempromosikan film terbarunya, Reuni Z, Ayushita dan Soleh Solihun memberikan pandangan mereka terhadap kelangkaan film anak di industri film Tanah Air. Menurut Soleh, sebenarnya kunci utama dari kelangkaan ini ada di produser yang enggan menggelontorkan uang demi membuat film-film anak.

“Kalau dari sisi dagang sih ya enggak bisa disalahin juga. Gak semua produser berani naruh resiko buat bikin sesuatu yang beda. Ada tapi gak banyak, lebih banyak yang main aman. Wah ini horor lagi laku, kita kasih ini aja,” ucap Soleh.

Komika asal Bandung tersebut juga menambahkan bahwa setiap kreativitas masih membutuhkan uang untuk bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Soleh tak menampik bahwa ada begitu banyak penulis dan pemilik ide kreatif yang gagal membuat film karena terbentur masalah dana.

“Kalau menurut gue sih kayak sutradara atau penulis cerita ada banyak yang punya cerita beragam dan gak sama kayak di pasar tapi balik lagi sutradara sama penulis bukan yang punya duit. Walau pun mereka punya ide tetap saja yang bisa mewujudkan ide itu yang punya duit yang percaya sama ide mereka. Kreativitas gak bisa jalan juga kalau gak ada duitnya,” tegasnya.

Hal sama dibenarkan oleh rekan main Soleh di film Reuni Z, Ayushita. Aktris berusia 28 tahun ini menganggap langkanya film anak karena peran besar para produser film di dalam pembuatannya.

“Karena kan masyarakat bukan yang punya duit buat bikin film, kecuali mereka bikin donasi gitu satu Indonesia buat bikin film lalu mereka bilang maunya dibikinin film apa gitu,” kata Ayu menanggapi perkataan Soleh.

Tak hanya membicarakan tentang langkanya film anak, Ayushita juga memberikan perspektifnya tentang latahnya para produser dalam menanggapi sebuah tren film di Indonesia.

Ayu beranggapan bahwa industri film luar memiliki empat musim berbeda yang memiliki kekhasan tersendiri untuk melewatinya. Hollywood, misalnya, pasti memiliki film-film andalan untuk menggaet pasar pada musim Winter dengan film-film Natal atau menarik pasar anak-anak pada musim Summer atau liburan sekolah dengan film-film superhero.

“Kalau kita kan hampir gak ada (musimnya). Ketika anak sekolah liburan kayak gak punya musimnya gitu lho. Paling musiman kita apa? Libur lebaran sama Valentine. Bulan Februari pasti film tentang cinta-cintaan. Padahal secara kultur kita sangat beragam sekali cuma kebetulan yang dihadirkan hanya sedikit,” pungkas Ayushita.

(SIS)

Advertisements